Sukabumi Selatan Nasibmu Kini

Maraknya usaha laundry di Sukabumi Selatan semula untuk memudahkan perajin konveksi yang sudah turun temurun. Sejak tahun 1970-an Kelurahan Sukabumi Selatan dikenal berbagai mancanegara sebagai perkampungan pengrajin konveksi. Namun, para pengrajin ini harus melakukan pencucian ke wilayah lain.

Kondisi ini mengundang para pengusaha laundry untuk investasi, sejak tahun 1995 satu per satu bermunculan dan hingga kini ada 48 pengusaha. Upaya untuk menekan biaya produksi pengusaha laundry menggunakan air tanah dan tidak menyiapkan instalasi pengolah limbah (matter traitment) dan langsung membuang limbahnya ke saluran air warga.

Pemprov DKI baru menyadari setelah protes dari warga bermunculan karena air sumurnya tercemar limbah laundry dan menimbulkan gatal-gatal ena menumbat saluran air dari endapan limbah.

Seperti yang diberitakan di BERITAJAKARTA.COM  tanggal 03-09-2008, bahwa 48 Pengusaha Laundry Sepakat Membuat IPAL, para pengusaha di Sukabumi Selatan terpaksa menyepakati keputusan Walikota Jakarta Barat untuk membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan tidak menggunakan air tanah.

Para pengusahan laundry tersebut  berjanji tidak membuang limbah sembarangan dan tidak menggunaan air tanah. Pernyataan pengusaha tersebut disampaikan dalam pertemuan yang diadakan oleh Pemkot Jakbar dan 48 pengusaha laundry, di Kantor Kelurahan Sukabumi Selatan, Rabu (3/9-2008)

Pada tanggal 12-09-2008, Budirama Natakusuma, Kepala BPLHD DKI Jakarta menerangkan, kegiatan puluhan usaha laundry blue jins dan konveksi di Sukabumi Selatan secara pasti telah melakukan pelanggaran dalam pengelolaan limbah cucian mereka. Selain limbah pencucian dan pencelupan jeans, gangguan juga disebabkan asap tebal yang mengepul dari cerobong industri laundry and dry cleaning.

Pembuatan IPAL merupakan solusi sementara pencemaran akibat limbah laundry. IPAL terpadu dibuat di lahan kosong milik pengusaha laundry. Sebanyak 50% dari 48 usaha laundry di Sukabumi Selatan memiliki lahan kosong. Pengusaha laundry yang tidak memiliki lahan akan diarahkan ke IPAL terpadu atau IPAL sederhana di dalam tempat usaha mereka.

Kalau mereka tidak mau mengolah limbahnya dengan IPAL, Budirama menegaskan, bakal menutup usaha mereka. Selain itu, para pengusaha laundry diminta untuk tidak lagi menggunakan air tanah tetapi air PAM untuk kegiatannya. Kemudian memikirkan recycle air yaitu bagaimana air yang telah digunakan itu bisa didaur ulang kembali dan dapat digunakan untuk usaha mereka. Semua usulan tersebut telah disetujui dan saat ini sedang dilaksanakan mereka. “Jadi mereka jangan mengambil air tanah terus menerus,” harapnya

Tempo Interaktif juga pernah memberitakan seperti yang dilansir pada

Berdasar pengamatan Tempo, air limbah yang dibuang berwarna biru kehitam-hitaman.

“Air limbah itu mengalir ke sungai pesanggrahan,” kata sumber Tempo yang tidak mau disebutkan namanya itu. “Ada empat pabrik disini,” katanya lagi.

Air limbah dari kurang lebih empat pabrik ini memang tak dibuang langsung, melainkan diendapkan terlebih dahulu di penampungan limbah. Sayangnya, akses ke sungai ditutup tembok oleh pabrik. Saat hendak dikonfirmasi, tidak ada satu pun pengusaha yang bisa ditemui Tempo. Namun, salah satu sekretaris perusahaan, Nurul, membenarkan air limbah dibuang ke Sungai Pesanggrahan. “Tapi kan limbahnya diolah dulu,” katanya.

Pengamatan Tempo yang lain, di pabrik laundry ini terdapat gunungan kayu bakar dan gunungan celana jeans. Celana jeans yang berwarna biru itu disinyalir oleh pihak Kantor Lingkungan Hidup Wali Kota Jakarta Barat dicuci dengan bahan kimia yang berlebihan. Sehingga warna air limbahnya terkadang hitam pekat, biru, dan merah keunguan.

***********


Ini kondisi sungai dan selokan saat ini

Apa hasil dari kesepakatan tersebut ternyata cuma menjadi isapan jempol belaka, sampai dengan detik ini pembuangan limbah pencucian dari perusahaan Laundry masih terus berlanjut dan berlangsung tanpa ada tindakan apapun dari aparat daerah setempat.

Sejauh ini memang ada beberapa laundry yang membuat IPAL. Tetapi berdasarkan pengamatan di lapangan, instalasi-instalasi IPAL tersebut sangat tidak sebanding dengan volume limbah yang dihasilkan oleh perusahaan Laundry tersebut, sehingga sebagian besar air limbah yang tidak diproses tetapi dibuang ke sungai. Bahkan ada perusahaan laundry yang memiliki instalasi IPAL, tetapi sudah tidak dioperasikan lagi dengan alasan biaya operasional yang tinggi.

Sumber :

http://bataviase.co.id/node/195250

http://www.beritajakarta.com/2008/

http://www.tempointeraktif.com/hg/topik/masalah/482/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s